YUNCHENG, Tiongkok, 15 Oktober 2026/PRNewswire/ — Artikel berita dari chinadaily.com.cn:
![Li Zijun (right), a scholar of the Chinese Theatre Literature Society, displays a photo of his grandfather, Li Hongchun, portraying the legendary Chinese figure Guan Gong during the International Youth Dialogue on Loyalty and Honor Without Borders in Yuncheng, Shanxi province, on Wednesday. [Photo by Zhu Xingxin/China Daily] Li Zijun (right), a scholar of the Chinese Theatre Literature Society, displays a photo of his grandfather, Li Hongchun, portraying the legendary Chinese figure Guan Gong during the International Youth Dialogue on Loyalty and Honor Without Borders in Yuncheng, Shanxi province, on Wednesday. [Photo by Zhu Xingxin/China Daily]](https://mmx.prnasia.com/media/MS2013142/20261014044010EDT_image_1.jpg?id=OA3019176&p=medium600)
Li Zijun (right), a scholar of the Chinese Theatre Literature Society, displays a photo of his grandfather, Li Hongchun, portraying the legendary Chinese figure Guan Gong during the International Youth Dialogue on Loyalty and Honor Without Borders in Yuncheng, Shanxi province, on Wednesday. [Photo by Zhu Xingxin/China Daily]
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lo Chin-Ying, mahasiswa berusia 24 tahun asal Taiwan yang tengah mendalami pengobatan tradisional Tiongkok di daratan Tiongkok, terus memaknai nilai-nilai kesetiaan dan kebenaran yang melekat pada sosok Guan Gong.
Bagi banyak warga Tiongkok di Taiwan, kepercayaan terhadap Guan Gong bukan sekadar tradisi, melainkan juga memiliki ikatan emosional yang kuat.
"Di Taiwan, budaya Guan Gong sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," kata Lo, mahasiswa S2 di Beijing University of Chinese Medicine, dalam Dialog Pemuda Internasional tentang Kesetiaan dan Kehormatan Tanpa Batas. "Banyak orang datang ke kuil Guandi untuk memohon berkat saat membuka usaha, mengikuti ujian, atau pindah rumah."
Guan Gong, sosok yang juga dikenal sebagai Guandi atau Kaisar Guan, merupakan gelar kehormatan bagi Guan Yu, jenderal yang hidup pada akhir Dinasti Han Timur (25–220) dan era Tiga Kerajaan (220–280). Ia dihormati sebagai lambang kesetiaan dan kebenaran.
Upaya memperkenalkan budaya Guan Gong kepada generasi muda juga dilakukan Zhang Xuanjie, warga Yuncheng berusia 34 tahun yang menjuarai "Miss Tourism World China Finals 2011" dan menjadi Duta Komunikasi Internasional Yuncheng. Ia mengembangkan pendekatan kreatif agar nilai-nilai kesetiaan dan kebenaran yang diwariskan Guan Gong tetap relevan dengan selera generasi muda dan kehidupan modern.
"Tim saya berfokus mengembangkan produk kultural dan kreatif bertema Guan Gong. Kami mengangkat nilai-nilai tradisional, seperti kesetiaan, bakti kepada orang tua, sopan santun, dan kebenaran, melalui beragam produk kreatif serta interaksi sosial sehari-hari," kata Zhang.
"Guan Gong menjadi bagian dari jati diri spiritual masyarakat Yuncheng sekaligus kebanggaan budaya saat orang Tiongkok memperkenalkan diri kepada dunia," ujarnya.
Kepercayaan terhadap Guan Gong kini melampaui batas negara dan menjadi ikatan spiritual bagi masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia.
Saat ini, terdapat lebih dari 30.000 kuil Guandi dan aula Guan Gong yang tersebar di sedikitnya 168 negara dan wilayah.
Kuil dan tempat pemujaan Guandi banyak dijumpai di komunitas Tionghoa di Amerika Serikat, Singapura, Thailand, dan sejumlah negara lainnya.
Dylan Austin Walker, perwakilan pemuda Amerika Serikat yang tinggal di Tiongkok, menilai Guan Gong sebagai simbol budaya yang mampu merangkul keberagaman dalam komunitas Tionghoa di Amerika Serikat.
"Meski berbeda generasi, asal-usul, dan gaya hidup, masyarakat Tionghoa perantauan tetap merasakan ikatan budaya yang sama dan penghormatan mendalam saat berdiri di hadapan patung Guan Gong," ujarnya.
Pemanfaatan teknologi digital turut memberi napas baru bagi budaya Guan Gong dan memperluas cara generasi muda mengenalnya.




















